Jejak Malayapura yang Terlupakan: Mengungkap Identitas Candi-Candi Buddha di Dharmasraya
Kabupaten
Dharmasraya, sebuah permadani hijau yang membentang di jantung Sumatera Barat,
memendam dalam keheningannya warisan sejarah yang menakjubkan, lebih dari
sekadar keelokan alam dan kehangatan budaya Minangkabau. Di antara barisan
bukit yang menjulang dan alunan lembut sungai Batanghari yang membelah lanskap,
tersembunyi dengan misterius kompleks candi-candi Buddha yang identitasnya
masih menjadi teka-teki yang mengundang rasa ingin tahu para pengkaji sejarah
dan arkeologi. Sementara narasi sejarah kawasan ini seringkali didominasi oleh
kisah keagungan Kerajaan Malayu Dharmasraya yang mencapai puncak kejayaannya
pada abad ke-13 hingga ke-14 Masehi, artikel ini mengajak pembaca untuk
melakukan ekspedisi intelektual yang lebih dalam, menggali kemungkinan adanya
jejak peradaban yang jauh lebih tua dan berpotensi terlupakan: Kerajaan
Malayapura yang masih diselimuti kabut misteri.
Keberadaan
Malayapura, sebuah entitas politik dan budaya yang diperkirakan pernah
memainkan peran sentral di sebagian besar wilayah Sumatera pada masa lampau,
masih menjadi topik diskusi yang menarik dan menantang di kalangan para ahli.
Sumber-sumber sejarah yang secara eksplisit menyebutkan nama kerajaan ini
relatif sedikit dan seringkali tumpang tindih dengan penyebutan Swarnabhumi,
sebuah istilah geografis dan politik yang interpretasinya masih menjadi
perdebatan. Namun, di tengah keterbatasan catatan tertulis yang definitif,
kehadiran kompleks candi-candi Buddha yang tersebar di Dharmasraya, dengan
fokus pada situs Padangroco dan Pulau Sawah yang telah melalui proses ekskavasi
dan pemugaran, menawarkan bukti material yang tak ternilai harganya. Struktur-struktur
kuno ini menyimpan potensi untuk membuka lembaran sejarah yang mungkin belum
sepenuhnya terbaca, melampaui batas-batas narasi yang selama ini terpaku pada
kebesaran Malayu.
Candi
induk, yang dikenal sebagai Candi Padangroco I, memiliki denah bujursangkar
dengan ukuran yang cukup signifikan, mencapai 21 x 21 meter. Sisa-sisa struktur
bata pada bagian kaki candi menunjukkan ketebalan dan ketinggian yang
mengesankan, dengan sekitar 22 hingga 26 lapis bata yang masih terlihat. Bagian
tengah candi, yang kini berupa tanah urugan, diperkirakan memiliki ketinggian
sekitar 3 meter. Lebih menarik lagi, struktur ini diduga terdiri dari dua
bangunan yang menyatu, yaitu sebuah candi utama berukuran sekitar 8,50 x 8,50
meter dan sebuah mandapa (aula terbuka) berbentuk persegi
panjang dengan ukuran sekitar 13,50 x 8,50 meter. Secara keseluruhan, gabungan
kedua bangunan ini membentuk struktur yang lebih besar, berukuran sekitar 22 x
8,50 meter. Kompleks Padangroco secara keseluruhan diyakini terdiri dari empat
buah candi, di mana tiga di antaranya, yaitu Candi Padangroco I, II, dan III,
telah berhasil digali dan dipugar, memberikan gambaran tentang skala dan
kompleksitas situs ini. Periode pembangunan kompleks ini seringkali dikaitkan
dengan masa ketika Dharmasraya menjadi pusat Kerajaan Malayu, yaitu antara
tahun 1286 hingga 1347 Masehi, dengan raja seperti Srimat Tribhuwanaraja Mauli
Warmadewa yang memerintah pada periode tersebut.
Beralih
ke Kompleks Candi Pulau Sawah, kita menemukan situs yang juga menyimpan
kekayaan arkeologis yang signifikan. Meskipun secara keseluruhan luas kompleks
ini diperkirakan sekitar 500 meter persegi, namun area situsnya mencakup hingga
22 hektare, di mana para arkeolog telah mengidentifikasi tidak kurang dari 11
struktur candi yang berasal dari masa Kerajaan Melayu Dharmasraya pada abad
ke-13 Masehi. Meskipun tidak semua candi telah diekskavasi secara menyeluruh,
penemuan ini menunjukkan bahwa Pulau Sawah merupakan pusat kegiatan keagamaan
dan permukiman yang cukup penting pada masanya. Pemugaran terhadap Candi Pulau
Sawah I dan II yang dilakukan pada tahun 2003 memberikan kesempatan bagi kita
untuk mengapresiasi bentuk dan arsitektur dari beberapa struktur ini.
Menariknya, catatan sejarah juga menyebutkan bahwa sebelum tahun 685 Masehi,
Kerajaan Malayu (yang lokasinya mungkin berbeda dengan Dharmasraya pada periode
selanjutnya) pernah ditaklukkan oleh Sriwijaya, mengindikasikan adanya
interaksi politik dan kemungkinan pengaruh budaya yang kompleks di kawasan ini
jauh sebelum abad ke-13.
Kaitan
antara candi-candi ini dengan Kerajaan Malayapura menjadi semakin menarik jika
kita mempertimbangkan periode waktu dan potensi penguasa yang terkait. Meskipun
sumber sejarah mungkin tidak secara eksplisit menyebutkan pembangunan
candi-candi ini oleh raja-raja Malayapura, kita tahu bahwa pada masa yang
diasosiasikan dengan Malayapura (sebelum abad ke-13), wilayah Sumatera telah
memiliki kerajaan-kerajaan Buddhis yang kuat. Nama-nama seperti Trailokyaraja
(sekitar tahun 1183) dan Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (akhir abad
ke-13 hingga awal abad ke-14) tercatat sebagai penguasa pada masa Dharmasraya
yang juga sering dikaitkan dengan Malayapura. Adityawarman, yang memerintah
pada pertengahan abad ke-14, juga merupakan tokoh penting dalam sejarah Dharmasraya
dan dikaitkan dengan perpindahan pusat kekuasaan dari hulu ke hilir Sungai
Batanghari.
Analisis
mendalam terhadap arsitektur candi-candi di Dharmasraya memberikan indikasi
adanya kekhasan gaya yang mungkin berbeda atau bahkan mendahului karakteristik
bangunan yang umumnya dikaitkan dengan puncak kejayaan Kerajaan Malayu
Dharmasraya pada abad ke-13 dan ke-14 Masehi. Beberapa elemen arsitektural,
seperti fondasi bangunan, teknik pembangunan menggunakan bata, atau bahkan
orientasi kompleks candi, patut dicermati lebih seksama. Perbandingan
detail-detail ini dengan ciri arsitektur dari periode yang diasumsikan sebagai
masa kejayaan Malayapura di wilayah lain Sumatera, jika teori keberadaannya
sebagai entitas politik yang lebih awal dapat diterima, dapat memberikan
perspektif baru yang signifikan.
Selain
itu, penelusuran jejak ikonografi pada arca-arca dan relief yang ditemukan di
situs-situs Dharmasraya memegang peranan penting. Apakah terdapat representasi
spesifik dari bodhisattva atau dewa-dewi dalam panteon Buddhis Mahayana atau
Vajrayana yang lebih lazim ditemukan pada periode yang diasosiasikan dengan
Malayapura? Identifikasi motif-motif dekoratif atau simbol-simbol keagamaan
yang unik, dan perbandingannya dengan temuan dari situs-situs lain di Asia
Tenggara yang memiliki kaitan sejarah dengan kerajaan-kerajaan awal di
Sumatera, dapat memperkuat hipotesis tentang adanya pengaruh atau bahkan
peninggalan Malayapura di Dharmasraya.
Penting
untuk ditekankan bahwa tujuan artikel ini bukanlah untuk menggantikan narasi
sejarah Kerajaan Malayu Dharmasraya. Sebaliknya, kami ingin membuka diskusi dan
eksplorasi lebih lanjut mengenai kemungkinan adanya lapisan sejarah yang lebih
dalam, di mana Malayapura mungkin memainkan peran penting dalam pembentukan
lanskap budaya dan keagamaan di kawasan ini sebelum munculnya kekuatan Malayu
yang lebih terpusat. Candi-candi di Dharmasraya, dengan demikian, dapat
dipandang sebagai saksi bisu dari interaksi dan evolusi kekuatan politik dan
budaya di Sumatera pada masa lalu.
Penelitian
interdisipliner yang melibatkan para arkeolog, sejarawan, ahli sejarah seni,
dan filolog menjadi sangat penting untuk mengungkap misteri ini. Analisis
mendalam terhadap artefak yang ditemukan, studi komparatif dengan situs-situs
lain di kawasan Asia Tenggara, serta interpretasi ulang sumber-sumber sejarah
yang ada, dapat membantu kita merekonstruksi secara lebih akurat jejak
Malayapura yang mungkin tersembunyi di balik megahnya warisan Kerajaan Malayu
Dharmasraya. Menggali kembali identitas "terlupakan" ini bukan hanya
memperkaya khazanah pengetahuan kita tentang masa lalu Dharmasraya, tetapi juga
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman yang lebih
komprehensif tentang sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan Buddhis di Sumatera.
Komentar
Posting Komentar